Skip to content
Koran Aktual
Menu
  • Nasional
  • Internasioanal
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Hiburan
Menu

Sihir Simeone: Alvarez Tolak PSG, Pilih Jadi Raja Atletico

Posted on April 14, 2026

Ponsel Julian Alvarez tak henti berdering, sebuah gempuran panggilan masuk yang diotaki satu nama: Diego Simeone. Dari Rodrigo de Paul, Antoine Griezmann, hingga putra sang manajer, Giuliano Simeone, semuanya menjadi perpanjangan tangan El Cholo untuk memboyong sang penyerang ke Madrid.

Pada akhirnya, juara dunia asal Argentina itu menyerah. “Tolong bilang pada ayahmu untuk berhenti menelepon,” pesannya pada Giuliano. Alvarez sudah luluh; ia akan datang ke Atletico Madrid.

Kisah “teror” telepon ini menjadi penentu mengapa Alvarez memilih Stadion Metropolitano sebagai pelabuhan barunya. Atletico Madrid secara resmi mengunci kesepakatan senilai 95 juta euro, sebuah rekor penjualan bagi Manchester City, dengan kontrak berdurasi enam tahun untuk sang striker.

Apa yang dijual Simeone bukanlah sekadar kontrak, melainkan sebuah takhta. “Dia mengatakan saya bisa memberikan sesuatu yang besar untuk klub,” kenang Alvarez. Simeone menjanjikan panggung utama, ruang, dan kesempatan bagi Alvarez untuk menjadi versi terbaik dari dirinya, bukan lagi sekadar bagian dari sebuah mesin raksasa.

Di sisi lain, Paris Saint-Germain datang dengan iming-iming tumpukan uang. Raksasa Prancis itu dilaporkan siap menggelontorkan gaji hingga 8,7 juta poundsterling per musim. Namun, rayuan finansial itu nyatanya tak cukup kuat untuk mengalahkan visi yang ditawarkan Simeone.

Faktor koneksi Argentina juga memainkan peran krusial. Keberadaan Rodrigo de Paul, kehangatan Griezmann, serta kultur Spanyol yang lebih dekat dengan rumah menjadi magnet tambahan yang tak bisa ditawarkan oleh Paris maupun Manchester.

Menariknya, perjalanan Alvarez untuk sampai ke titik ini penuh liku. Dibesarkan di Calchin, sebuah kota kecil berpenduduk 3.000 jiwa, ia dijuluki ‘La Arañita’ atau Si Laba-Laba Kecil. Julukan itu melekat karena saat bermain di lapangan depan rumahnya, bola seolah tak bisa direbut darinya, seakan ia punya lebih banyak kaki dari manusia normal.

Bakatnya sempat memikat Real Madrid saat ia berusia 11 tahun, namun ia memilih pulang ke Argentina. Keputusan besar berikutnya datang di usia 15, saat seorang pemandu bakat River Plate hanya butuh satu sesi latihan untuk membawanya ke Buenos Aires. Di sanalah DNA pemenangnya ditempa.

River Plate adalah universitas sepak bolanya. Di klub raksasa Argentina itu, menang adalah kewajiban. “Sekali Anda berada di River, Anda tidak akan pernah bisa menerima kekalahan tanpa rasa sakit,” ujarnya. Puncaknya, ia pernah mencetak enam gol dalam satu laga Copa Libertadores, sebuah malam yang mengumumkan namanya ke seluruh dunia.

Langkahnya ke Manchester City pada 2022 membawanya ke puncak Eropa. Ia menjadi bagian dari mesin taktis Pep Guardiola, meraih Liga Champions dan Liga Primer Inggris di musim debutnya. Semuanya berjalan begitu cepat, hingga dering telepon dari Madrid mengubah segalanya.

Kini, di Atletico, Alvarez tidak lagi menjadi roda penggerak pendukung. Ia datang untuk menjadi mesin utama, juru gedor sentral dalam skema Simeone. Sebuah pilihan yang lebih mengutamakan peran dan warisan ketimbang sekadar pundi-pundi uang.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • 京都11歳男児殺害事件 父親が「首絞めた」と自供 山林遺体遺棄の全容
  • 17歳高校生が青切符詐欺で警察騙す 小遣い欲しさに偽造計画
  • Morotai Menjelma: Gelombang Kreator Digital Baru Melalui Pelatihan Inovatif
  • DPR Dorong Industri Baterai EV Karawang: Ambisi Energi Bersih
  • Teror Air Keras Andrie Yunus: Bais TNI Diseret, Motif Dendam Mengemuka

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026

Categories

  • Ekonomi
  • Nasional
  • Olahraga
  • Uncategorized
©2026 Koran Aktual | Design: Newspaperly WordPress Theme