Indonesia kini mengantongi peluang emas: mengimpor minyak mentah dari Rusia dengan harga super diskon, bahkan mencapai US$59 per barel. Angka ini sontak mencuri perhatian, jauh di bawah harga minyak mentah Brent yang melonjak di kisaran US$100 setelah gejolak geopolitik global.
Seorang pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (Unpad) bahkan menegaskan potensi ini. Ia menyebut, harga US$59 per barel tersebut tetap sangat kompetitif, bahkan jika dibandingkan dengan harga minyak normal yang berkisar US$60–70 per barel.
Menariknya, harga US$59 per barel itu mencerminkan asumsi penerimaan yang pemerintah Rusia sendiri tetapkan. Kondisi ini muncul pasca-sanksi embargo negara-negara Barat terhadap Rusia sejak 2022, yang secara signifikan mengubah dinamika pasar energi global.
Pada 2025, harga minyak Rusia sempat menyentuh US$25 per barel, jauh lebih rendah dibandingkan harga minyak dari Timur Tengah pada periode yang sama. Walaupun kini naik, tawaran US$59 per barel tetap menjadi magnet kuat bagi negara-negara pengimpor.
Lantas, bagaimana dengan biaya logistik? Pengamat tersebut menghitung, jika Indonesia membeli minyak Rusia dengan tambahan biaya logistik sekitar 30 persen, harganya akan berada di kisaran US$76,7–80 per barel. Angka ini sudah termasuk ongkos pengiriman yang tak sedikit.
Di sisi lain, harga tersebut masih 31–51 persen lebih efisien dibandingkan harga minyak dunia yang sempat melambung hingga US$116 per barel. Efisiensi ini bisa semakin besar jika lobi strategis antara Presiden Prabowo dan Presiden Putin membuahkan kesepakatan konkret.
Peluang pembelian minyak murah ini selaras dengan agenda kerja sama energi yang sebelumnya dibahas dalam pertemuan Presiden Joko Widodo dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya sempat menyampaikan, pembahasan tersebut mencakup penguatan kerja sama energi demi kepentingan nasional.
Lingkup kerja sama tersebut cukup komprehensif, meliputi pengembangan kilang minyak di Indonesia, penguatan perdagangan minyak, serta peningkatan pemanfaatan teknologi energi. Ini menunjukkan komitmen jangka panjang dalam diversifikasi sumber dan mitigasi risiko pasokan.
Dalam jangka panjang, Indonesia juga membuka peluang kolaborasi di sektor energi bersih. Inisiatif ini merupakan upaya strategis untuk mendukung diversifikasi energi nasional, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, sekaligus menjawab tantangan perubahan iklim global.
Potensi penghematan dari pasokan minyak Rusia tentu akan membawa dampak positif bagi keuangan negara. Dengan harga yang lebih kompetitif, beban subsidi energi bisa terpangkas, ruang fiskal APBN menjadi lebih lapang, dan tekanan inflasi dari sektor energi dapat sedikit mereda.
