Piala Presiden edisi kedelapan tahun depan dipastikan tampil beda. Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengungkapkan rencana perombakan format turnamen pramusim bergengsi ini usai final digelar di Jakarta, Minggu kemarin.
Erick bersama Maruarar Sirait selaku Ketua Steering Committee sedang meramu konsep baru untuk edisi 2026. Dukungan pemerintah daerah, mulai dari gubernur hingga bupati, menjadi kunci kesuksesan format yang tengah digodok ini.
Selama ini, jumlah peserta Piala Presiden cukup fluktuatif. Pernah diikuti enam tim hingga membengkak jadi 20 klub, termasuk kontingen mancanegara yang ikut meramaikan kompetisi.
Edisi 2025 yang baru usai menjadi yang terkecil dengan hanya enam peserta. Port FC dari Thailand keluar sebagai juara setelah menaklukkan Oxford United asal Inggris di partai puncak.
Kehadiran klub asing seperti Oxford dan Port tahun ini dinilai membawa angin segar. Erick mengaku ada keinginan kuat untuk kembali mengundang tim luar negeri pada edisi mendatang.
Namun keputusan final masih memerlukan pembahasan mendalam. Perkembangan pesat Liga 1 dan Liga 2 menjadi bahan pertimbangan matang sebelum menentukan format paling ideal.
Jadwal penyelenggaraan juga berpotensi digeser. Hal ini terkait dengan pelaksanaan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
Maruarar Sirait menegaskan konsistensi PSSI menyelenggarakan Piala Presiden bukanlah kerja satu tangan. Keberhasilan kompetisi ini lahir dari kolaborasi solid berbagai pihak dalam ekosistem sepak bola tanah air.
Mulai dari klub, manajer, pemain, media, sponsor, hingga pemerintah daerah turut andil. TNI dan Polri juga berkontribusi memastikan turnamen berjalan lancar dan aman.
Format baru yang sedang dirancang diharapkan bisa mengakomodasi kepentingan semua pihak. Sekaligus menjaga prestise Piala Presiden sebagai ajang pemanasan terbaik jelang kompetisi resmi bergulir.
