# JUDUL
Banjir Kembali Terjang Aceh, Jalan dan Jembatan Putus
# META
Banjir susulan kembali melanda Aceh Tengah, memutus akses jalan dan menghancurkan jembatan darurat. Satgas PRR segera bergerak lakukan penanganan masif.
# ISI
Hujan deras sepekan terakhir kembali mendatangkan petaka bagi Aceh. Banjir dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah, terutama Kabupaten Aceh Tengah, memutus akses transportasi vital masyarakat.
Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra, Muhammad Tito Karnavian, melaporkan sejumlah titik kembali terendam air bah. Yang memperparah kondisi, hampir seluruh sungai di Aceh Tengah mengalami pendangkalan sejak banjir besar November 2025 lalu.
Ruas jalan Desa Kenawat di Kecamatan Lut Tawar terputus pada 11 April 2026. Jalan penghubung Takengon-Bireuen via Weh Porak juga tidak bisa dilalui akibat luapan air yang merendam jalur transportasi tersebut.
Kondisi paling parah terjadi di Kecamatan Ketol. Dua jembatan darurat mengalami kerusakan berat—jembatan darurat Bergang hanyut tersapu arus, sementara jembatan darurat Berawang Gajah roboh total.
Kawasan permukiman di Desa Atu Lintang dan Desa Bintang Kekelip, Kecamatan Atu Lintang, juga kebanjiran. Tak hanya rumah warga, jalan raya dan bangunan sekolah dasar ikut terendam. Di Desa Jamur Konyel, Kecamatan Bintang, longsor menutup akses jalan.
“Kita harus kerja keras lagi,” ujar Tito yang juga menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri. Kata-katanya menegaskan komitmen untuk tidak menyerah menghadapi bencana susulan ini.
Respons cepat langsung digelar. Di Desa Jamur Konyel, pembersihan akses jalan terus dilakukan. Jembatan Bailey sudah disiapkan sebagai pengganti jembatan darurat Bergang yang rusak berat, demi mengembalikan konektivitas antar wilayah.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan alat-alat berat ke lokasi bencana. Langkah ini diambil agar penanganan di lapangan lebih cepat dan hambatan segera teratasi.
Kementerian Pekerjaan Umum melakukan pendataan infrastruktur sumber daya air yang terdampak. Data ini menjadi acuan Satgas PRR untuk mempercepat perbaikan sarana dan prasarana rusak.
Pemantauan situasi di lokasi bencana berjalan terus-menerus. Satgas PRR bahkan merencanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengalihkan awan pembawa hujan, upaya mengendalikan intensitas curah hujan agar tidak kembali mendatangkan ancaman.
Rencana ini bukan tanpa alasan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengirim surat peringatan kepada Gubernur Aceh terkait potensi curah hujan tinggi yang masih mengancam wilayah tersebut dalam waktu dekat.
Banjir November 2025 meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Aceh. Kini, bencana susulan kembali menguji ketahanan mereka. Kehadiran Satgas PRR menjadi harapan di tengah kegelisahan warga yang masih trauma.
