Keluhan warga ibu kota soal MinyaKita yang langka dan mahal akhirnya terjawab sudah. Perum Bulog memastikan akan ‘menyerbu’ pasar-pasar di DKI Jakarta dengan operasi pasar besar-besaran pekan ini, sebuah langkah darurat untuk menjinakkan harga minyak goreng rakyat yang kian tak terkendali.
Langkah tegas ini diambil setelah harga MinyaKita terpantau melambung jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang dipatok pemerintah sebesar Rp15.700 per liter. Di sejumlah pasar tradisional hingga ritel modern, masyarakat terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan minyak goreng bersubsidi tersebut.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa operasi pasar ini menjadi prioritas utama. “Instruksi sudah jelas, seluruh jajaran harus bergerak cepat memastikan MinyaKita kembali tersedia dengan harga wajar bagi masyarakat,” ujarnya usai memimpin rapat evaluasi nasional di Jakarta, Senin lalu.
Tujuannya tidak lain adalah untuk meredam gejolak harga dan mengembalikan stabilitas pasokan di tingkat konsumen. Bulog berkomitmen penuh menjalankan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga ketahanan pangan dan mengendalikan inflasi dari sektor kebutuhan pokok.
Namun, operasi pasar saja dinilai belum cukup untuk mengatasi akar masalah. Di sisi lain, Bulog juga secara proaktif telah melayangkan permintaan tambahan kuota MinyaKita kepada Kementerian Perdagangan. Langkah ini krusial untuk mengisi kekosongan pasokan yang menjadi biang keladi kelangkaan di berbagai daerah, tidak hanya di Jakarta.
Strategi intervensi pasar seperti ini bukanlah hal baru bagi BUMN pangan tersebut. Menariknya, Bulog terbilang berhasil menjaga stabilitas harga komoditas strategis lainnya, seperti beras, menjelang momen-momen krusial seperti Lebaran serta Natal dan Tahun Baru. Pengalaman ini menjadi modal penting dalam menghadapi kemelut harga MinyaKita saat ini.
Dengan digelarnya operasi pasar ini, masyarakat Jakarta diharapkan dapat segera merasakan dampaknya dalam beberapa hari ke depan. Warga diimbau untuk tidak melakukan pembelian panik (panic buying), karena pemerintah melalui Bulog sedang berupaya keras membanjiri pasar dengan stok yang cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Sementara itu, fenomena kelangkaan MinyaKita ini kembali menjadi pengingat akan kompleksnya tata niaga minyak goreng di tanah air. Pengawasan distribusi dari produsen hingga ke tangan konsumen menjadi pekerjaan rumah yang harus terus-menerus dievaluasi oleh pemerintah agar kejadian serupa tidak terus berulang di masa mendatang.
