Di tengah tantangan fiskal daerah, Kabupaten Simeulue justru membuat terobosan dengan menyulap aset yang kurang termanfaatkan menjadi mesin pencetak uang. Sebuah gudang pembeku (cold storage) kini resmi menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) senilai Rp2,6 miliar melalui skema sewa jangka panjang.
Pemerintah Kabupaten Simeulue berhasil mengunci kerja sama strategis dengan pihak swasta, PT Usaha Mina Merauke, untuk pengelolaan fasilitas tersebut selama satu dekade ke depan. Kesepakatan ini dipandang sebagai langkah cerdas untuk mengisi pundi-pundi kas daerah tanpa harus mengandalkan dana transfer pusat semata.
Bupati Simeulue, Muhammad Nasrun Mikaris, menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari visi besar menjadikan Simeulue sebagai pusat ekonomi biru di pesisir barat Sumatra. Menurutnya, gudang pembeku ini bukan sekadar bangunan, melainkan infrastruktur vital untuk menopang industri perikanan lokal.
Menariknya, fasilitas ini dirancang untuk memotong mata rantai yang selama ini merugikan nelayan. Dengan adanya penyimpanan modern, hasil tangkapan dapat dijaga kesegarannya, memberikan nilai tambah, dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan para nelayan di pulau terluar Aceh tersebut.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Simeulue, Supriman Juliansyah, membeberkan detail teknis kerja sama. Kontrak sewa yang berlokasi di Desa Lugu, Kecamatan Simeulue Timur ini bernilai Rp260 juta per tahun. “Kesepakatan ini akan berjalan selama sepuluh tahun, dengan klausul evaluasi setiap lima tahun untuk penyesuaian,” jelasnya.
Bagi para nelayan Simeulue, kehadiran gudang ini membawa angin segar. Selama ini, fluktuasi harga saat panen raya kerap menekan posisi tawar mereka. Kini, mereka punya pilihan untuk menyimpan hasil tangkapan dan menjualnya saat harga lebih stabil, memutus ketergantungan pada tengkulak.
Sementara itu, kehadiran investor di sektor perikanan ini diharapkan memicu efek domino positif. Terbukanya fasilitas pengolahan dan penyimpanan modern berpotensi menarik investasi lanjutan, menciptakan lapangan kerja baru, dan menjadikan Simeulue sebagai hub perikanan yang diperhitungkan di kawasan itu.
Simeulue sendiri merupakan kabupaten kepulauan yang terletak sekitar 180 mil laut dari daratan utama Sumatra. Dengan total 138 desa yang tersebar di 10 kecamatan dan populasi mendekati 100 ribu jiwa, sektor kelautan adalah nadi utama perekonomian masyarakatnya.
Langkah Pemkab Simeulue ini bisa menjadi cetak biru bagi daerah lain di Indonesia yang memiliki aset serupa namun belum teroptimalkan. Optimalisasi aset daerah secara produktif terbukti mampu menjadi solusi inovatif untuk kemandirian fiskal dan akselerasi pembangunan ekonomi lokal.
