Dapur rumah tangga Indonesia kini menghadapi tekanan nyata. Lonjakan harga minyak curah secara drastis mendorong konsumen berbondong-bondong beralih ke MinyaKita, produk minyak goreng rakyat yang harganya relatif stabil. Fenomena ini menjadi salah satu sorotan utama Perum Bulog dalam inspeksi mendadak rutin mereka di sejumlah pasar strategis Jakarta.
Perbandingan harganya mencolok: satu liter MinyaKita kini dibanderol Rp 15.700, sementara minyak curah bertengger di kisaran Rp 23.000 per liter. Kesenjangan ini menciptakan dilema bagi daya beli masyarakat, terutama di tengah kebutuhan pokok lainnya. Pemicu utama meroketnya harga minyak curah ternyata bukan pada minyaknya sendiri, melainkan biaya kemasan plastik yang melambung.
Harga plastik kemasan di tingkat pelaku usaha bahkan menyentuh angka Rp 58.000 per kilogram untuk merek tertentu. Kenaikan drastis ini, antara 40 hingga 100 persen sejak April 2026, langsung membebani harga jual minyak curah di pasaran. Gangguan pasokan nafta, bahan baku esensial plastik, dari kawasan Timur Tengah menjadi biang kerok fluktuasi harga ini.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, secara intensif memantau stabilitas pangan strategis. Sidak pasar yang mereka lakukan tiga kali seminggu bertujuan memastikan stok dan harga tetap terkendali di tingkat konsumen. Selain minyak goreng, harga komoditas lain juga menjadi perhatian serius dalam pengawasan ini.
Di Pasar Minggu dan Pasar Grogol, harga beras medium terpantau sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 13.500 per kilogram. Beras premium sedikit lebih tinggi di Rp 14.900 per kilogram, menunjukkan variasi di pasar. Menariknya, beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) pun konsisten sesuai HET, yakni Rp 12.500 per kilogram, menandakan intervensi pemerintah cukup efektif di segmen ini.
Sementara itu, harga telur ayam ras dijual Rp 30.000 per kilogram di kedua pasar yang disidak. Untuk telur ayam kampung dan telur bebek, harganya masing-masing Rp 3.000 dan Rp 3.500 per butir. Gula pasir justru menunjukkan stabilitas di level Rp 17.500 per kilogram, masih dalam rentang wajar di tengah dinamika pangan nasional.
Namun, harga daging sapi sedikit melampaui harga acuan pemerintah, mencapai Rp 150.000 per kilogram, padahal HET-nya Rp 140.000 per kilogram. Di sisi lain, cabai rawit merah melonjak hingga di atas Rp 50.000 per kilogram, menciptakan beban tambahan bagi pengeluaran rumah tangga. Jenis cabai lainnya cenderung stabil, tidak mengalami kenaikan signifikan.
Koordinasi Bulog dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Provinsi DKI Jakarta serta Perumda Pasar Jaya krusial untuk memastikan distribusi pangan strategis seperti MinyaKita berjalan lancar dan merata. Upaya ini menegaskan komitmen pemerintah menjaga ketahanan pangan dan daya beli masyarakat di tengah gejolak harga global maupun domestik.
