Peluang kerja ke Jepang kini terbuka lebar bagi keluarga kurang mampu. Kementerian Sosial menggandeng lembaga asal Negeri Sakura untuk melatih caregiver yang akan dikirim bekerja di sana.
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengungkapkan, kolaborasi dengan Regiono Group ini menyasar lulusan Sekolah Rakyat dan penerima bantuan sosial. Mereka akan dilatih khusus sebagai tenaga perawat lansia dan anak-anak.
“Dari keluarga miskin, kita latih jadi caregiver. Harapannya ini bisa jadi kerja sama permanen dan strategis,” kata Agus Jabo saat menerima CEO Regiono Group, Nakashima Yasuharu di Jakarta Pusat, Senin pekan lalu.
Regiono Group merupakan lembaga Jepang yang bergerak di bidang pendidikan dan perawatan kesehatan. Lembaga yang beroperasi di Fukuyama dan Hiroshima ini membutuhkan 400 caregiver dalam beberapa tahun ke depan untuk bekerja di panti-panti sosial.
Program ini menjadi bagian dari upaya Kemensos memperkuat graduasi atau peningkatan kesejahteraan masyarakat. Targetnya jelas: mengangkat warga miskin dari garis kemiskinan melalui pelatihan kerja berkualitas.
Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos Supomo menjelaskan, kurikulum Sekolah Rakyat memang dirancang untuk melatih bakat siswa agar siap kerja. Hampir setiap kabupaten dan kota punya sekolah ini.
“Anak-anak yang tidak mau kuliah dan ingin langsung kerja, kita siapkan di kurikulum terakhir. Begitu lulus, mereka sudah bisa berangkat ke Jepang,” ujar Supomo.
Ke depan, Kemensos akan melibatkan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia untuk menata kerja sama ini. Tujuannya agar lebih banyak lembaga Jepang yang tertarik merekrut tenaga kerja Indonesia.
Supomo mengakui, kalau hanya satu lembaga yang menjalin kerja sama, peluangnya terbatas. “Tapi kalau banyak, otomatis yang terserap juga lebih banyak. Kami ingin memfasilitasi warga yang butuh pekerjaan jadi caregiver,” jelasnya.
Agus Jabo optimistis prospek pengiriman caregiver Indonesia ke Jepang cukup besar. Apalagi jumlah lulusan SMA dari Sekolah Rakyat terus bertambah setiap tahunnya.
Kerja sama ini dinilai saling menguntungkan. Jepang yang menghadapi penuaan penduduk butuh banyak tenaga perawat, sementara Indonesia punya banyak pencari kerja muda yang siap dilatih. Tinggal bagaimana pemerintah memaksimalkan peluang emas ini untuk kesejahteraan rakyat.
